Showing posts with label Pemerintahan. Show all posts
Showing posts with label Pemerintahan. Show all posts

Sunday, June 14, 2009

65% Ekonomi Indonesia Dikuasai Oleh Hanya 400 Keluarga, Tragis


Roda Ekonomi hanya dikuasai segelintir orang

Roda Ekonomi hanya dikuasai segelintir orang


Indonesia negara dengan penduduk lebih dari 1/4 milyar orang merupakan salah satu dari negara dengan penduduk terbesar di dunia. Alangkah ironisnya bila bangsa sebesar ini roda perekonomiannya hanya dikuasai oleh 400 keluarga pengusaha besar saja.


“Pelaku pasar ini besar-besar, hanya terdiri dari 400 keluarga. Kita ingin ke depan partisipasi masyarakat bisa lebih kuat. Artinya fokus pada kegiatan ekonomi yang tidak mengerucut ke atas,” kata salah satu tim ekonomi Mega-Pro, Iman Sugema di Jakarta, Kamis 11 Juni 2009.


Harus diuapayakan bagaimana rancangan ulang perekonomian nasional ke depan bisa lebih baik lagi. Untuk mewujudkan itu, kata dia, kuncinya penerapan ekonomi kerakyatan. “Karena bicara perubahan tanpa perubahan struktur ekonomi, maka hanya akan berputar dari krisis satu ke krisis berikutnya,” kata dia.


Kondisi ini sekarang dialami Indonesia, dan dampaknya cukup signifikan pada nilai ekspor yang turun sampai 33 persen. Tidak hanya ekspor yang anjlok, modal juga lari ke luar. Di sektor perbankan, dua bank sudah kolaps dan satu bank harus dibailout pemerintah.


Penguasaan Sumber Ekonomi Yang Terpusat Tidak Sehat

Penguasaan Sumber Ekonomi Yang Terpusat Tidak Sehat


“Ini memang tidak separah krisis 10 tahun lalu. Tapi ini mengingatkan kita, setelah krisis yang dulu, ternyata sektor keuangan dan perbankan kita sangat lemah. Kenapa? Karena tidak ada perubahan yang mendasar, sehingga kita sangat rentan,” kata dia.


Ekonomi kerakyatan, adalah sistem yang memungkinkan semua rakyat Indonesia berdaulat di bidang perekonomian. Dengan sistem ekonomi yang baru, pelaku harus menjadi besar dan mengakar yaitu dengan mempercepat pelaku usaha kecil tanpa harus membatasi pertumbuhan para pengusaha besar. Artinya, yang diinginkan mengandung efek yang tidak negatif terhadap perusahaan yang besar. “Pelaku pengusaha kecil coba kita accelarate,” katanya.


Sebagai contoh Indonesia punya 50 juta ha lahan yang sudah dibabat. Kondisi ini bisa direboisasi. Misalnya, 10 ha diberikan ke pengusaha kecil. “Kalau sekarang kan pengusaha besar yang diutamakan, kami tidak. Pelaku lama tidak kami gusur, tapi bagaimana mengubah ekonomi ini basisnya ke rakyat,” kata dia.


Kedua prinsipnya, struktur ekonomi harus berlandaskan keunggulan kompetitif kita. Selama ini yang terjadi, kita terlalu sibuk menggenjot sektor moneter yang tidak nyambung dengan sektor riil. Jadi bagaimana kedepan agar kita ada basis yang lebih kuat atas keunggulan kompetitif kit, yaitu dalam agroindustri. “Pnelitian di IPB sudah cukup banyak, bagaimana pertanian yang kecil itu lebih efisien dibanding yang skala besar,” katanya.


Iman juga mempertanyakan soal angka kemiskinan pada kurun waktu 2005-2008 yang hanya berkurang 140 ribu jiwa, yaitu dari 35,1 juta menjadi 34,95 juta. Padahal pemerintah punya dana cukup besar, seperti PNPM dan BLT.


“Artinya program kemiskinan yang sekarang itu teralu boros. Coba dana Rp 70 triliun dibagi 140 ribu orang. Ini tidak efektif dalam pengentasan kemiskinan. Dulu tahun 2004, berkurang 2,2 juta orang hanya dengan anggaran Rp 14 triliun per tahun,” kata dia. Referensi: Vivanews

Monday, June 8, 2009

Sebatik, Wilayah Indonesia Serba Malaysia

TEMPO Interaktif, Sebatik: “Lebih enak pakai Ringgit timbang Rupiah,” kata Daeng Mallongi, petani Kakao di Desa Pancang, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur.


Ungkapan Mallongi hampir merata diungkapkan warga Sebatik yang merupakan wilayah Indonesia. Tapi mata uang Negara Malaysia biasa digunakan sebagai media transaksi di daerah perbatasan ini.


ringgit Bukan hanya mata uang, kebutuhan dapur warga Sebatik juga sangat bergantung barang dari Tawau Malaysia, seperti beras, gula pasir dan minyak makan. Barang itu sengaja didatangkan dari negeri seberang karena barang Indonesia yang beredar di kecamatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, tak bisa mencukupi.


“Kalau di rumah habis saya ke Tawau belanja, naik kapal cuma 40 menit,” kata Mallongi.


H. Abdul Kalap pemilik toko sembako di Sebatik menjual semua barang dari Malaysia. Mulai roti, tepung, bensin, gas, obat-obatan pertanian, susu kental. Tapi di toko ini juga menjual produk Indonesia, yakni rokok. “Kalau kita bawa rokok dari Malaysia, ditangkap,” kata Kalap.


Kecuali rokok, pembelian barang ditoko milik Kalap ini semua menggunakan Ringgit Malaysia (RM). Ini tampak jelas pada bandrol harga yang ditempel di barang yang dijual tertulis dengan ringgit. “Kalau mau bayar pakai rupiah, ya disesuaikan dengan ringgit, kalau harga barang 3 RM, kira-kira Rp10.000,” ujarnya.


Pembayaran dengan ringgit tak hanya di pertokoan dan jual beli barang. Di sekolah negeri di Sebatik sebagian juga bisa membayar menggunakan ringgit. Ini diakui Rani Riyanti (10), Hasni Maryam (10) yang duduk di bangku kelas 2 dan Iskandar Syahputra (14) yang duduk di kelas 4 SDN 009, Kampung Sinjai. “Bayar SPP 1 ringgit 50 sen,” kata Iskandar Syahputra.


Penggunaan ringgit oleh warga Indonesia di Sebatik bukan tanpa alasan. Menuju ke Tawau, Malaysia warga sebatik hanya perlu waktu 40 menit. Sedangkan menuju kota Tarakan atau Nunukan dari Pelabuhan Sungai Nyamuk, Sebatik memerlukan waktu perjalanan hingga 2 jam lebih. “Barang Malaysia lebih bagus dibanding barang Indonesia,” ungkap Mallongi.


Mallongi mengaku tak berniat untuk tidak menghargai mata uang negaranya sendiri. Jika saja Pemerintah memperhatikan warga di perbatasan dengan memberikan fasilitas seperti di kota, kejadian di Sebatik tak akan terjadi. “Kalau mau nunggu sembako dari Surabaya, kelamaan sampainya,” kata M Taher rekan Mallongi