Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Thursday, September 10, 2015

Hipdysplasia, "Bahaya di Balik Bedong Bayi Kencang"


“Yah, gak pinter mbedong ini, baru 5 menit langsung lepas, gini lho yang bener kenceng begini… “

“Bedong bikin anak anteng, gak kagetan, tidurnya nyenyak, kamu juga bisa istirahat malem.”

“Baby umur brp, kok kakinya ga lurus itu? Dulu gak pernah dibedong ya?”

*melongo bingung jawabnya*

9Trendingtopic - Begitulah "selentingan-selentingan" kecil seputar bedong bayi di tengah masyarakat kita. Banyak sekali mitos yang beredar di masyarakat salah satunya mengenai tujuan bedong untuk meluruskan kaki. Keahlian membedong bayi pun dinilai dari “kenceng” tidaknya kain .

Mari kita lihat beberapa pendapat beberapa dokter mengenai bedong bayi dan pengaruhnya terhadap kaki lurus :

1.  Dokter anak yang berpraktik di RSAB Harapan Kita, dr Aditya Suryansyah SpA(K)

“Pembedongan sebenarnya tidak wajib dilakukan karena terbukti tidak ada hubungannya dengan kaki bengkok. Seperti diketahui, suhu di dalam kandungan ibu sekitar 37 derajat Celcius, sedangkan suhu ruangan 27 derajat Celcius. Maka orang zaman dulu membedong. Karena sudah banyak dijual baju hangat dan selimut untuk bayi, maka saat ini tidak perlu membedong bayi,”

2.  dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA (K)

“Pembedongan bertujuan untuk menghangatkan bayi dan bukan untuk meluruskan kaki bayi. Posisi normal kaki bayi memang agak bengkok, sehingga para orang tua tidak perlu khawatir. Bedong terlalu lama sebenarnya justru ‘MEMAKSAKAN’ kaki bayi agar lurus”

3. Pendapat Dokter kandungan DR. dr. Ali Sungkar SpOG

“Saya jelas-jelas tidak setuju bayi dibedong. Bayangkan berapa jam bayi kita harus dibedong, kakinya harus diluruskan. …. Banyak sendi-sendi pada kaki bayi yang harus digerakkan agar tidak kaku dan mengalami pertumbuhan.”

4. Dokter Rinawati Rohsiswatmo

“Ini bukan posisi biologis bayi dalam kandungan. Dalam rahim posisi kaki bayi justru menekuk, begitu juga dengan kedua tangannya. (Bedong) itu menyalahi kodrat.
Berdasarkan pendapat beberapa dokter di atas sudah jelas bahwa Bedong ketat untuk meluruskan kaki bayi : tidak terbukti dan tidak direkomendasikan!

Apa Resiko Bayi Dibedong terlalu Kencang?

Mengutip hasil penelitian seorang orthopedi anak yang dilakukan di Jepang, bedong yang dilakukan terhadap bayi justru mengakibatkan kerusakan parah pada tulang bayi.”

Seperti kutipan artikel yang dicantumkan dari salah satu kumpulan link di AAP berikut ini :

“Improper swaddling may lead to hip dysplasia or developmental dysplasia of the hip. When in the womb the baby’s legs are in a fetal position with the legs bent up and across each other. Sudden straightening of the legs to a standing position can loosen the joints and damage the soft cartilage of the socket.”
- See more at:  

Lalu bagaimana dengan anak bayi yang “kagetan”?

Bedong boleh dilakukan dengan memperhatikan :

  • Bedong yang bertujuan untuk menghangatkan bayi, boleh dilakukan dengan tetap memperhatikan ruang gerak bayi terutama panggul dan kaki bayi. 
Tutorial video mengenai membedong dengan baik bisa diintip di http://hipdysplasia.org/developmental-dysplasia-of-the-hip/hip-healthy-swaddling/.
Sedangkan perbedaan bedong sehat dan membedong terlalu ketat tampak di foto seperti ini :



Hindari bedong yang terlalu ketat yang berisiko menyebabkan dislokasi tulang dan hip dysplasia
  • Beberapa bayi merasa lebih nyaman dibedong terutama dengan reflek kaget karena lebih nyaman dan hangat seperti dipeluk, akan tetapi tetap perhatikan durasi tidur bayi dan kecukupan minum ASI, segera buka bedong apabila anak terlalu lama tidur.
  • Pilih bahan bedong yang nyaman, hindari pemakaian baju berlapis saat cuaca panas. Bedong modern / bedong instan bisa dijadikan pilihan.
  • Tetap waspadai SIDS, Sudden Infant Death Syndrome. Selalu letakkan bayi yang terbedong pada punggung bayi. Hindari selimut atau barang sekitar tempat tidur bayi yang bisa menghalangi kepala / sekitar leher bayi yang berisiko menutupi pernapasan.
  • Rekomendasi American Academy of Pediatrics, membedong dapat dilakukan sampai usia 2 bulan, mengingat risiko SIDS dan kemampuan gerak bayi yang sudah lebih aktif melebihi newborn.

Semoga bermanfaat....
 

    Tuesday, September 8, 2015

    Pentingkah Memaksa Anak Usia Dini Wajib Bisa Baca Tulis Hitung?


    9Trendingtopic - PENTINGKAH MEMAKSAKAN ANAK USIA DINI DAN SD WAJIB BISA BACA TULIS HITUNG?

    Seorang guru di Australia pernah berkata kepada saya:
    “Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 SD kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”
    “Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu?” Saya mengekspresikan keheranan saya, karena yang terjadi di negara kita kan justru sebaliknya.

    Inilah jawabannya:
    1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
    2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka akan menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.
    3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

    ”Memang ada pelajaran berharga apa di balik MENGANTRI ?”

    ”Oh, banyak sekali pelajaran berharganya,” jawab guru kebangsaan Australia itu.
    1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
    2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
    3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting.
    4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
    5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri).
    6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
    7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
    8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
    9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
    10. Anak belajar memiliki RASA MALU jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
    11. Anak belajar bekerja sama dengan orang2 yang ada di dekatnya, jika misalnya sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
    12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain
    13. Anak belajar utk tidak mengambil apa yg menjadi hak orang lain, di sinilah titik awal anak utk belajar TIDAK KORUPSI.
    Mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

    Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.

    Apa yang dipertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memrihatinkan.
    1. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
    2. Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut!”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
    3. Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya diperbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
    4. Ada orang tua yang malah marah2 karena ditegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.
    5. dan berbagai macam kasus lainnya mungkin anda pernah alami juga.

    Bagaimana menurut kalian? Silahkan sebarkan kepada semua temanmu ya.





    Dipublikasikan oleh: Sebarkanlah.com
    Artikel: Satria Hadi Lubis via Facebook

    Thursday, September 3, 2015

    Bunda, Tas Sekolah Berat Bisa Ancam Kesehatan Anak


    9Trendingtopic - Banyaknya buku pelajaran membuat banyak anak sekolah harus membawa tas besar dan berat. Kadang bisa kita lihat, lebih besar tas ketimbang ukuran tubuh mereka. Bahayakah tas yang berat bagi kesehatan anak? Jawabannya, iya.

    "Sejak ransel digunakan setidaknya tahun 1998, kami telah melihat semakin besar dan lebih berat, dan tidak sebanding dengan ukuran anak-anak '," kata Dr Karen Jacobs, profesor klinis di Boston University dan juru bicara American Occupational Therapy Association (AOTA) , yang mensponsori hari kesadaran ransel sekolah. 

    Jacobs mengatakan sekolah ramai dan ruang ganti sedikit tampaknya semakin melanggengkan fenomena tersebut.

    Dilansir dari Time, sebuah studi pada tahun 2010 dari University of California, San Diego, menyimpulkan, "beban ransel bertanggung jawab untuk sejumlah besar nyeri punggung pada anak-anak." Penelitian yang sama mengatakan sepertiga penuh anak-anak berusia 11 sampai 14 laporan nyeri punggung. Penelitian lain dari tahun 2011 sampai pada kesimpulan yang sama.

    "Anak-anak mengatakan 'kembali saya sakit, leher dan bahu saya sakit,'" kata Jacobs. "Sebuah ransel berat juga dapat berkontribusi untuk sakit kepala dan masalah berkonsentrasi di sekolah."

    Seperti kerangka rumah, tulang belakang yang membuat tubuh kokoh anak Anda dan tegak. Menempatkan terlalu banyak berat badan pada frame ini sementara tubuh muda masih berkembang, dan itu bisa mengubah postur seorang anak, menekan tulang punggungnya, dan mengganggu pertumbuhan, kata Rob Danoff, seorang dokter pengobatan osteopathic dan dokter keluarga bersertifikat dengan Sistem Kesehatan Aria Philadelphia . "Mungkin juga berkontribusi untuk kembali masalah atau cedera ketika anak anda lebih tua," kata Danoff.

    Bagaimana berat yang terlalu berat? "Sebagai aturan umum, penelitian menunjukkan ransel sebaiknya tidak lebih dari 10 sampai 20 persen dari berat badan anak anda untuk menghindari rasa sakit atau cedera potensial," kata Jacobs. "Kami merekomendasikan 10 persen." (Rekomendasi Danoff ini-tidak lebih dari 15 persen-sejalan dengan Jacobs.)

    Untuk anak sekolah dasar yang beratnya hanya 50 atau 60 pound, beberapa buku pelajaran dan makan siang bisa melampaui batas aman. Untuk itu, Jacobs mengatakan penting untuk memeriksa ransel anak Anda setiap hari untuk memastikan dia hanya membawa apa yang dia butuhkan.

    Sudahkah anda memeriksa tas anak anda hari ini?




    Sumber : aceh.tribunnews.com

    Bunda Tolong Baca, Bayi 1 Bulan Meninggal karena Diberi Makan Pisang


    9Trendingtopic - Bayi sebaiknya hanya mengonsumsi ASI pada enam bulan pertama hidupnya. Setelah enam bulan, dia dapat mengonsumsi makanan pendamping ASI atau disebut MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu).

    Namun pemberian MPASI harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati. Banyak orang memberikan makanan padat pada bayi bahkan saat bayi masih berusia kurang dari empat bulan.

    Padahal sebaiknya makanan padat mulai diberikan saat usia bayi telah mencapai enam bulan. Pada usia setengah tahun ke atas, makanan berperan sebagai pendamping ASI atau disebut MPASI.

    Sebaiknya hindari memberikan makanan padat atau minuman selain ASI sebelum bayi berusia enam bulan. Pada usia ini, bayi lebih berisiko mengalami alergi, terutama pada makanan seperti kacang, telur, ikan, susu sapi, keju, maupun makanan yang mengandung gluten seperti roti.

    Untuk para bunda, ada baiknya membaca kasus di bawah ini, curhatan seorang ibu yang kehilangan bayinya karena mengasih makan bayinya terlalu cepat.

    Jadilah ibu yang cerdas yang tak termakan sesuatu yang sekedar mitos atau yang berlangsung turun temurun. Dan pengaruh buruk MPASI dini tidak hanya terlihat secara jangka pendek,  bisa jadi jangka panjang seperti munculnya maag akut saat menjelang  remaja, dsb.

    Jadi jangan pernah katakan “Anak saya baik-baik saja..”. Dan korban MPASI dini masih akan terus bertambah selama para ibu belum membuka mata dan hati terhadap bahayanya.

    Berikut ini kisah seorang ibu yang menuliskan di akun sosial medianya:



    Untuk para bunda, jadikanlah ini pelajaran yang sangat berarti bagi kita semua, jangan sampai si buah hati hilang begitu saja dikarenakan ego kita.

    Nah, jadi apakah MPASI itu tidak boleh? Boleh saja, tapi jangan terlalu dini yang bisa menyebabkan buah hati kamu meninggal.

    Terus, cara MPASI yang benar bagaimana dong? Silahkan konsultasi ke dokter spesialis anak atau bisa cari referensi di Internet. Artikel ini hanya bertujuan untuk mengingatkan para bunda agar lebih berhati-hati.

    Silahkan SHARE artikel ini, supaya para bunda lebih waspada saat menjaga dan memberi makan si buah hati....



    Sumber : sebarkanlah.com

    Buat PARA AYAH BACA INI : PELUKAN AYAH MEMBUAT ANAK CERDAS & MANDIRI

    9Trendingtopic - Tahukah Anda bahwa pelukan ayah membuat anak cerdas dan mandiri? Pelukan ini memang terkesan sebagai hal sepele, tapi nyatanya banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan dari pelukan ini. 

    Bukan hanya mampu memberikan rasa aman, tetapi juga mampu mentransfer keberanian & kemandirian pada anak Anda. Bisa dikatakan, pelukan merupakan salah satu wujud kasih sayang orang tua di dalam bentuk sentuhan fisik pada si buah hati yang sangat mudah dilakukan. Inilah alasannya kenapa para orangtua harus menjadikan pelukan kepada anak ini sebagai bagian dari rutinitasnya sehari-hari.

    Sayangnya, meskipun terbilang sangat mudah, namun tidak semua orangtua terbiasa untuk memeluk anak-anaknya. Apabila orangtua tidak membiasakan memberikan pelukan sejak anak-anaknya masih kecil, jangan heran apabila sampai de-wasa nanti, mereka justru merasa tidak nyaman saat dipeluk. Biasanya, yang tidak terbiasa memberikan pelukan kepada anak-anak mereka diantara orangtua adalah para ayah.


    Menurut psikolog Melly Puspita Sari, S.Psi., MT, NLP, seperti dikutip oleh laman kompas.com, bisa jadi, ayah yang sulit untuk memeluk anak dulunya juga mungkin jarang dipeluk orang tuanya. Karena si ayah tumbuh & berkembang jarang juga dipeluk, ia akan melakukan hal yang sama juga kepada anaknya. Namun kalau ia biasa dipeluk saat kecil oleh orangtuanya, dia juga akan memeluk anaknya.

    Hasil sejumlah penelitian terbaru yang ditulis dalam buku The Miracle of Hug menunjukkan bahwa pelukan antara orangtua dengan anaknya mampu meningkatkan kecerdasan otak, menstimulasi keluarnya hor-mon oksitosin yang dapat memberikan perasaan tenang kepada anak, serta dapat memberi dampak yang positif pada perkembangan anaknya. Yang tidak kalah pentingnya, selain pelukan ayah membuat anak cerdas & mandiri, tenyata juga dapat membuat anak makin merasa dicintai dan dihargai.

    Yang lebih menariknya lagi, pelukan dari masing masing orang tua dapat mentransfer hal yang luar biasa pada anaknya. Masing-masingnya akan mentransfer sifat-sifat tertentu pada anaknya, sehingga anak nantinya akan tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak yang sehat.

    Psikolog Melly Puspita Sari juga mengatakan bahwa saat ayah memeluk, sesungguhnya ia sedang mentransfer kemampuan kemandiriannya. Ayah dapat mentransfer aspek berani untuk berinteraksi dengan berbagai figur otoritas yang terdapat di luar rumah. Anak-anak ini nantinya akan lebih kuat saat sedang berada di luar rumah. Sebaliknya, anak-anak yang pernah mendapat ke-kerasan dalam rumah tangga, cenderung akan menjadi seorang penakut saat sedang berada di luar rumah.

    Jika pelukan ayah membuat anak cerdas & mandiri, lain halnya dengan ibu. Pada saat ibu memeluk, sifat empatinya akan tersalurkan pada anak. Ibu merupakan figur afeksi, yang pada saat anak sakit, ia akan merawat & memeluk anak untuk memberi kenyamanan. Nah, jika Anda belum terbiasa, sebaiknya segera membiasakan diri untuk memberi pelukan hangat kepada anak. Agar anak Anda tumbuh menjadi sosok atau pribadi penyayang, pintar dan mandiri.




    Sumber : tipsanakbayi.com

    Bunda, 8 Cara Ini Bisa Atasi Perut Kembung Pada Anak..


    9Trendingtopic - Kembung disebabkan penumpukan gas di dalam perut. Meski perut memiliki daya tampung gas, jika volumenya berlebih dapat menyebabkan gangguan. Biasanya perut tampak membuncit, timbul rasa tidak nyaman, bahkan rasa sakit di perut dan dada. Ini terjadi karena gas yang menumpuk di lambung mendesak diafragma yang membatasi rongga perut dengan rongga dada.

    Bagaimana mengenali atau mendeteksi kembung pada buah hati? Ketukkan jari secara perlahan dan lembut pada dinding perut. Dengarkanlah suaranya, jika nyaring dapat dipastikan perut anak kembung.

    Sahabat Wanita gak perlu khawatir, Atasi Perut Kembung Pada Anak dengan 8 Cara Ini ....

    1. CARI POSISI NYAMAN
    Cari posisi yang memudahkan anak mengeluarkan udara dari dalam saluran cerna, baik dalam bentuk sendawa atau kentut. Anak dapat diminta duduk atau dibaringkan dengan posisi telungkup.

    2. BERI TEPUKAN ATAU PIJATAN
    Beri pijatan pada tubuh anak. Utamanya di daerah punggung, seputar perut, dan dada. Beberapa tepukan pada bagian punggung juga sangat bermanfaat memancing timbulnya sendawa.

    3. GUNAKAN BALSAM ATAU PENGHANGAT
    Balurkan penghangat di daerah perut, dada, dan punggung. Kalau anak alergi terhadap kandungan balsam atau minyak telonnya, manfaatkan kantong karet air hangat dan letakkan di atas perut anak. Selain itu, lakukan pijatan dengan lembut pada punggung, seputar perut, dada, atau telapak kakinya. Jangan sampai anak kesakitan. Penghangat dan pijatan membantu gas di lambung keluar. Kerokan belum tentu mengurangi gejala kembung pada anak. Lagi pula, mengerok akan membuat pori-pori kulit terbuka, sehingga berisiko menyebabkan masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh. Tindakan mengerok juga berisiko membuat pembuluh darah tepi pecah, yang ditandai warna kemerahan di kulit.

    4. HINDARI MAKANAN PENGHASIL GAS
    Ada beberapa macam makanan dan minuman yang dapat memicu timbulnya gas di lambung. Untuk sementara, hindari mengonsumsi makanan dan minuman terrsebut, yaitu minuman dingin, es krim, minuman bersoda, makanan pedas, kacang-kacangan (kacang tanah, kaang polong, buncis), dan kol. Hindari juga aneka produk susu sapi bagi anak yang mengalami intoleransi laktosa. Makanan berlemak dan gorengan juga dapat memicu perut kembung.

    5. BERI MINUMAN HANGAT
    Minuman hangat dapat menyamankan perut yang kembung dan memancing sendawa atau kentut. Gunakan gelas. Minum dari gelas berarti udara yang ikut masuk lebih sedikit volumenya daripada minum melalui sedotan atau dari botol yang mulutnya kecil.

    6. JANGAN TERGESA-GESA SAAT MAKAN DAN MINUM
    Ketergesaan menelan akan memperbanyak jumlah gas yang tertelan bersama makanan. Minta anak mengunyah makanan secara perlahan hingga lembut. Jangan langsung makan dalam jumlah banyak karena akan membuat organ pencernaan bekerja lebih keras.

    7. TIDAK MAKAN SAMBIL BERBARING
    Berbaring membuat gas di lambung yang masuk selama proses makan dan mencerna sulit keluar dalam bentuk sendawa. Jika perut sudah kembung, tentu akan memperparah kondisinya.

    8. GUNAKAN OBAT PENGHILANG GAS
    Jika diperlukan, konsumsilah obat-obatan yang dapat mengatasi perut kembung, tentu dengan mengonsultasikannya terlebih dahulu pada dokter. Hati-hati jika kembung disertai keluhan sulit buang air besar, tidak bisa buang angin, mual, dan muntah. Jika itu terjadi, periksakan ke dokter.



    LIKE & SHARE YA, SEMOGA BERMANFAAT….




    Sumber : facebook

    Friday, August 28, 2015

    AYAH, AJAKLAH ANAKMU BERMAIN


    Jam menunjukkan pukul 05.30 ketika mobil ayah mulai dinyalakan untuk dipanaskan. Ayah harus berangkat pagi sekali bila tidak mau terjebak macet dan terlambat sampai di kantor. Bunda mengantarkan ayah di pintu sambil menggendong adek yang masih dalam usia menyusu.

    Kakak pun menggandeng tangan Bunda sambil terus mengajak bicara sang ayah. Ayah yang tergesa dan khawatir terlambat hanya menimpali sesekali. Itu pun ketika kakak sudah menanyakan hal yang sama berulang kali hingga membuat ayah bosan dan mulai merasa terganggu.

    Jam 05.45 ayah pun berangkat ke kantor. Kakak dan adik menghabiskan waktu bercengkrama dengan bunda sepanjang hari. Bunda melakukan semua pekerjaan rumah sambil mengasuh kakak dan adik. Makanan bergizi pun terhidang. Baju tercuci dan tersetrika rapi. Rumah bersih dan wangi. Lalu bunda mengajarkan kakak membaca dengan telaten sambil menyusui adik. Malam pun tiba, Bunda dengan penuh kasih sayang menutup kegiatan hari ini dengan berkisah untuk kakak dan adik yang mulai mengantuk.

    Tiba-tiba terdengar bunyi pagar rumah yang dibuka dan derum suara mobil ayah memasuki halaman. Anak-anak pun berlarian ke depan menyambut ayah.

    “Ayah, kakak tadi diajari membuat pesawat oleh Bunda. Ayo Yah kita main, kakak sudah tunggu Ayah dari tadi”.

    Ayah menjawab,”Sama bunda saja yah mainnya, ayah lelah sekali. Sekarang ayah mau mandi dan langsung istirahat. Jangan ganggu ayah yah, ayah kan seharian kerja cari uang untuk kalian.”

    Kakak pun menggandeng bunda dan minta bunda menyimpankan pesawatnya sambil berkata,”Bunda, ayah capek yah cari uang untuk kita? Kalau begitu kakak main sama ayah hari Ahad saja yah Bun, kalau ayah sedang tidak bekerja.”

    Ahad pun tiba. Ayah sudah mandi dan rapi di pagi hari. Melihat ayah sudah rapi, Kakak yang terlambat bangun langsung minta diambilkan pesawat untuk mengajak ayahnya bermain. Namun ayah berkata,”Mainnya sama bunda saja yah Nak, Ayah ada janji reuni dengan teman-teman ayah.Nanti pulang ayah belikan mainan pesawat yang bagus untuk kakak.”

    “Asiiik, nanti kita main ya Yah…” seru Kakak.

    Ayah pun menyahut,”Sepertinya ayah akan pulang malam hari ini, Kak. Mainnya besok sama Bunda saja yah. Yang penting, besok pagi ketika kamu bangun tidur, mainan pesawat yang baru dan bagus sudah ada di meja belajarmu.” Kakak pun mengangguk. Entah apa yang ada di hatinya…

    9Trendingtopic - Cuplikan KISAH di atas sering kita jumpai dalam kehidupan keluarga. Banyak dari para suami yang mengira bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab istri. Suami tidak dituntut kecuali untuk memenuhi kebutuhan materi anak-anak dan istrinya.

    Akibatnya, suami sering menghabiskan waktunya di luar rumah bersama rekan-rekannya dan ketika kembali ke rumah langsung beristirahat di kamar sambil meminta istrinya menemani anak-anak mereka agar tidak menganggu istirahatnya. Jika demikian keadaannya, keluarga tersebut jelas dalam keadaan bahaya (Asy-Syantut, 2005).

    Ayah, tidak malukah pada Rasulullah, sang pemimpin ummat? Yang dalam kesibukannya yang tak terbayangkan, Beliau tetap menyediakan waktu bercengkrama dengan anggota keluarganya.

    Ingatkah kisah bagaimana Rasulullah pernah sholat sambil menggendong Umamah? Beliau memberikan keteladanan dan contoh nyata cara sholat dan adabnya yang dirasakan langsung oleh si kecil Umamah, sekaligus memberikan ilmu kepada para sahabat.

    Tidakkah kita ingin mencontoh kemesraan antara Rasulullah dengan Hasan dan Husein radhiallahu anhum ketika mereka duduk dan bercanda bersama? Bagaimana Beliau menyediakan punggung dan dadanya untuk dinaiki oleh kedua cucu kesayangannya, sambil mencium dan mendoakan mereka. Lihatlah nilai yang ditanamkan dari kedekatan emosional yang dibangun oleh Rasulullah dengan Hasan dan Husein.

    Juga tidak lupa kita akan kisah dilarangnya Hasan memakan kurma sedekah. Penanaman nilai halal haram yang diberikan bahkan ketika si kecil sedang digendong di atas bahunya.

    Tidakkah itu cara efektif menanamkan nilai keimanan? Gabungan antara kasih sayang, bermain dengan aktivitas fisik yang membangun kedekatan emosional , yang semuanya berpadu dengan ketegasan khas seorang ayah. VIP! Eksklusif hanya Ayah….. Ya! AYAH!

    Ajaklah anakmu bermain, Ayah…
    Mengoptimalkan waktu yang tidak banyak di antara kesibukanmu mencari nafkah,
    Karena anakmu menanti dan menikmati kebersamaan bersamamu…

    Itu semua adalah peranmu, Ayah…
    Dalam mendidik anakmu, harapan terbesarmu, asetmu yang paling berharga
    Karena hanya dirimu yang memiliki kombinasi lengkapnya…

    Ayah,
    Dirimu lah sang pemimpin keluarga ,
    Dimana peran besar pendidikan keluarga ada di tanganmu,
    Dirimu lah yang kelak akan mempertanggungjawabkan kepemimpinanmu terhadap kami semua di hadapan Allah pada akhirnya…

    Semoga bermanfaat...



    (Penulis: Ustadzah Poppy Yuditya. Diolah dari tulisan Khalid Ahmad Asy-Syantut dalam bukunya: Rumah Pilar Utama Pendidikan Anak)

    Jika Bayi Anda Selalu Menangis Ketika Hendak Diberikan ASI, Mungkin Ini Penyebabnya!


    9Trendingtopic - Pernahkah Bunda mengalami kejadian ketika setiap kali Bunda hendak memberikan ASI kepada bayi Bunda, si bayi ternyata tidak dapat menyusu dengan sempurna, dan menyebabkannya sering menangis? Padahal produksi ASI Bunda normal. Dan anak-anak Bunda sebelumnya selalu bisa ASI tanpa halangan.

    Jika pernah, Bunda pasti merasa sedih dan bingung saat itu. Dan karena sayang dan khawatir akan perkembangan bayi, Bunda pasti langsung memilih alternatif dengan cara memberikan minum susu formula, benar kan Bunda?

    Padahal sebenarnya tidak perlu tergesa-gesa memutuskan untuk beralih ke susu formula. Karena bisa jadi, bayi Anda mengalami masalah Tongue-tie. Coba Bunda cek terlebih dahulu, bisa secara personal ataupun konsultasi ke dokter.

    Namun, untuk informasi awal apa itu Tongue-tie dan bagaimana gejala/tanda-tandanya? Cek ini ya Bunda ...

    Apa itu Tongue-tie?

    Tongue-tie (ankyloglossia) adalah suatu kondisi dimana dasar lidah melekat pada dasar mulut melalui frenulum (tali lidah) yang tebal, kencang, atau pendek yang menyebabkan gerakan lidah menjadi sangat terbatas. Tongue-tie sering kita kenal sebagai tali lidah pendek, meskipun istilah tersebut kurang tepat. Tounge-tie memiliki bentuk dan derajat yang bervariasi. Frenulum adalah suatu lipatan mukosa yang menghubungkan bagian bawah lidah dan dasar mulut. Anatomi frenulum juga sangat bervariasi. Pada tongue tie, frenulum biasanya tebal, kencang, atau pendek dan bisa menempel hingga ujung lidah. 



    Bagaimana Gejalanya?

    Meskipun Tongue-tie dikatakan tidak mendatangkan masalah untuk makan atau bicara, tetapi beberapa bayi akan memiliki masalah dengan menyusui karena mereka tidak akan dapat untuk menggunakan lidah untuk mengisap ASI dengan sempurna sehingga tidak akan mendapatkan ASI yang cukup.
     
    Sebaliknya, Bunda mungkin akan menghadapi beberapa masalah seperti puting lecet, bahkan berdarah akibat mulut bayi yang menempel pada puting dan "mengunyah" puting Bunda. Gejala Tongue-tie pada bayi adalah :
    1. Bayi sulit / gagal membuka mulut sehingga sulit untuk menghisap puting.
    2. Bayi bisa menjadi kembung atau cepat "kenyang" karena banyak menghirup udara daripada menghisap ASI. 
    3. Bayi akan mengeluarkan suara saat menyusu.
    4. Susu keluar dari mulut saat sedang menyusu karena bayi tidak mengunci payudara dengan bibirnya.
    5. Tersedak, batuk bahkan ada saatnya muntah ketika menyusu karena kesulitan bayi memasukkan puting Bunda mengarah ke tenggorokannya.
    6. Berat badan bayi cacat / tidak bertambah (lambat). 
     

      Diagnosis dan Pengobatan

    Biasanya Tongue-tie dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan rutin medis bayi dalam 24 jam pertama setelah kelahirannya. Dokter anak akan menempatkan jari di dalam mulut bayi untuk memeriksa langit-langit dan lidahnya. Dari segi perawatan, dalam beberapa kasus, masalah ini bisa pulih sendiri menjelang akhir tahun pertama usia bayi.

    Namun, jika bayi masih memiliki masalah setelah periode tersebut, dokter anak dapat mempertimbangkan metode pembedahan.Pembedahan juga mungkin dilakukan jika anak memiliki masalah bicara atau tidak merespon terhadap pengobatan terapi wicara.

    Dalam satu penelitian yang dilakukan ahli bedah pediatrik menunjukkan operasi pembagian frenulum berhasil memungkinkan sekitar 60 persen bayi menyusu dengan sukses untuk setidaknya tiga bulan setelah operasi.


    ********************

    Nah Bunda, semoga informasi di atas menambah wawasan Bunda ya. Semoga Bunda dapat selalu memberikan ASI kepada bayinya hingga batas maksimum, atau sekurang-kurangnya berhasil memberikan ASI eksklusif.







    Sumber  :  sdkeluarga [dot] karangkraf [dot] com

    Wednesday, August 26, 2015

    Efek Buruk Kebiasaan Berteriak dan Membentak Anak


    9Trendingtopic - Kebiasaan berbicara dengan nada tinggi ternyata bisa memberikan pengaruh secara fisik dan psikis pada anak. Memang bukan hal mudah menjadi orang tua dan membesarkan anak-anak. Setiap hari tentu ada saja kelakuan si kecil yang kerap membuat orang tua marah hingga frustasi dan membuat mereka memiliki kebiasan berbicara dengan nada tinggi seperti berteriak dan membentak.

    Dua kebiasaan tersebut ternyata berbahaya dan dapat membawa pengaruh kurang baik bagi tumbuh kembang anak dalam jangka panjang. Mengutip laman Boldsky, berikut beberapa alasan yang menjadikan berteriak dan membentak tidak baik untuk anak....

    Perkembangan Emosional
    Anak membutuhkan dorongan positif dalam hidup, maka berilah kesempatan untuk mengeksplorasi dan mencoba hal-hal baru di sekitarnya. Kebiasaan berteriak dan membentak hanya membuat mereka merasa tertekan secara emosional.

    Faktor Keselamatan
    Berbicara dengan nada tinggi mungkin bermaksud untuk memberikan keselamatan bagi anak. Nyatanya hal tersebut justru menjadi pengalaman yang menakutkan dan dapat mengancam keselamatan mereka.

    Gangguan Pendengaran
    Agar bisa menjadi pendengar yang baik, anak tentu harus tumbuh di lingkungan yang membuatnya berpikir positif. Saat orang tua berbicara dengan nada tinggi terus menerus membuat mereka terganggu dan mengalami gangguan pendengaran.

    Tingkat Kepercayaan Menurun
    Orang tua kerap dijadikan panutan bagi anak, sehingga tanpa disadari kebiasaan Anda akan ditiru oleh mereka termasuk kebiasaan berbicara dengan nada tinggi. Hal ini tentu dapat mempertaruhkan harga diri mereka saat berada di tengah lingkungan pertemanan.

    Masalah Perilaku
    Anak yang kerap ditempa dengan kebiasaan berbicara bernada tinggi membuat mereka memiliki perilaku kurang baik dan anti-sosial. Anak juga menjadi lebih arogan dan keras kepala saat berada di lingkungan pertemanan.


    MARI Bunda, kita kurangi kebiasaan kita membentak dan memarahi buah hati kita agar tumbuh kembangnya sesuai dengan yang kita harapkan. Semoga bermanfaat...



    Sumber : facebook family guide

    Tuesday, August 25, 2015

    STOP Berteriak!! Gunakan The Power of BERBISIK kepada Anak..


    9Trendingtopic - MARI BERHENTI TERIAK DAN MEMBENTAK ANAK dan gunakan The Power of “BERBISIK”

    Allo ayah Edy namaku Lilian (bukan nama sesungguhnya) mami dari dua anak, anakku yg pertama, Bella (bukan nama sesungguhnya) sudah hampir 5 tahun, duh nakalnya minta ampun, hampir setiap hari aku harus teriak2 marahin.. aku jadi sering snewen sendiri tapi kadang2 aku jg suka merasa kasihan, apa gak ada cara lain selain marah dan teriak untuk buat dia nurut. Habis ia baru mau mendengarkan kalo aku sudah teriak dengan suara keras… Duh gimana ya... please ayah… help me… stress juga ya ngurus anak, ternyata lebih gampang urus kerjaan di kantor rasanya.

    Bu Lilian yg baik,
    Rasanya memang mengurus pekerjaan di kantor lebih mudah dari pada mengurus anak, ucapan ini sudah sering sekali saya dengar dari banyak orang tua. Tentu saja ini terjadi jika kita tidak mau belajar bagaimana menjadi orang tua yg baik, mengapa perlu belajar karena jelas sekali, jika kita ingin jadi Dokter ada sekolahnya, ingin jadi Pilot juga ada sekolahnya tapi jadi orang tua belum ada sekolahnya, lantas dari mana kita bisa belajar mengelola anak kita secara benar..? Padahal anak-anak kita sejatinya adalah Mahakarya dari Tuhannya. Jadi melalui fan page ini saya mengajak para orang tua di tanah air untuk menjadikan Komunitas Ayah Edy sebagai alternatif pengganti sekolahnya para orang tua.

    Hal yg ibu Lilian alami sebenarnya sering juga di alami oleh ibu-ibu lainnya, hal ini terjadi karena pamahaman kita yang sangat minim tentang berbagai macam tipe anak. Pada dasarnya setiap anak terlahir unik tidak pernah ada yg sama dan memiliki tipe dan ciri masing-masing. Sekilas saya melihat bahwa mungkin Bella adalah tipe anak yang aktif, kreatif, suka bergerak, dan bicara. Itulah mengapa ia sering sulit mendengar ucapan orang tuanya pada saat ia sedang bergerak. Sebenarnya Bella sama sekali tidak bermaksud untuk membuat orang tuanya kesal apalagi marah, apa yang ia lakukan semata adalah untuk mengembangkan sistem syarafnya terutama sistem syaraf motoriknya agar kelak berkembang sempurna saat ia tumbuh besar.

    Kesalahan yang paling sering dilakukan oleh para orang tua dalam mendidik anaknya adalah mengabaikan faktor-faktor penting dalam teknik berkomunikasi sehingga akhirnya seolah-olah anaknya seperti anak nakal yang tidak mau mendengar orang tuanya. Nah apa saja faktor-faktor tersebut:
    1. Faktor berkomunikasi berhadapan empat mata tanpa masing-masing melakukan aktivitas lainnya, seperti bicara sambil berkomputer ria atau bicara sambil anaknya bermain. Stop semua aktivitas apapun saat kita hendak bicara dengan anak.
    2. Faktor membuat kesepakatan bersama, membuat aturan main yang jelas beserta konsekuensinya.
    3. Faktor menggunakan suara datar serta bahasa yg mudah dimengerti anak, tanpa disertai bentakan atau teriakan.
    4. Faktor mengingatkan anak dengan menggunakan “Bisikan”

    Nah untuk lebih jelasnya berikut kami jelaskan teknik penerapannya yang mungkin bisa ibu kembangkan sesuai situasi dan kondisi yg ibu hadapi:

    #1. Pada saat ibu ingin bicara maka segeralah memintanya untuk berhenti bergerak dengan cara memegang kedua tangannya, kemudian memintanya untuk duduk/berdiri sejenak dan menghadapkan wajah pada kita sehingga perhatiannya terpusat pada kita.

    #2. Setelah dia berhenti bergerak, katakan padanya “perhatikan sebentar, Mami mau bicara 2 menit saja, dengarkan baik-baik ya...” sambil tetap pegang kedua tangannya.

    #3. Bicaralah pelan-pelan tapi jelas maksudnya, apa yg anda inginkan bukan apa yg anda tidak inginkan “misalnya mama ingin kamu berhenti bermain remote tv mulai sekarang dan seterusnya !” penting untuk mengatakan kapan waktunya dimulai dan hingga kapan.

    #4. Tanyakan apakah ia mengerti apa yang anda katakan. Pastikan ia mengangguk atau mengatakan ya atau mengerti. Jauh lebih baik jika ia kita minta mengulang pesan yang kita sampaikan. Misalnya: “Coba kamu ulangi apa permintaan mami tadi” sambil kita bimbing.. “Mami ingin Bella berhenti bermain...dst”. Pujilah dengan mengatakan “Bagus Sekali”.

    #5. Jelaskan padanya aturan main konsekuensi jika ia melanggarnya, mis: “Jika kamu mainkan lagi maka kamu tidak boleh menonton film kesukaanmu hari ini,” atau apapun yang menurut ibu layak untuk sepakati.
    #6. Usahakan jika terjadi pelanggaran pertama anda tidak teriak malainkan datang kepadanya, pegang tangannya dan gunakan “The Power of Berbisik”. isi bisikannya bukan berupa ancaman melainkan mengingatkannya akan kesepakatan yg sudah kita buat. Mis. “Sssstttt... Bella sini dech mami bisikin”, “Bella sayang apakah kamu masing ingin nonton film kesukaan mu hari ini?” “Mami ingatkan Bella agar Bella nanti malam tetap bisa nonton film lho.”

    #7. Jika terjadi pelanggaran terus maka tidak perlu banyak bicara, laksanakan tindakan, amankan TVnya atau bagaimana caranya agar ia tidak nonton TV malam ini dan pastikan agar ia juga mengetahui bahwa maminya adalah orang yg tegas dan konsisten.

    Saya selalu menerapkan aturan main yg jelas, membahas dan membuat kesepakatan bersama anak, lalu setelah itu hanya tinggal mengingatkannya dengan cara “BERBISIK”. Dan sejauh ini The Power of Berbisik betul-betul bekerja dengan baik untuk bisa mengelola prilaku anak saya. Saya saat ini jauh lebih jarang menggunakan teriakan melainkan lebih sering menggunakan bisikan.

    Teknik ini juga sangat ampuh apa bila anak kita berusaha membuat ulah di tempat-tempat umum. Selamat mencoba berbisik dan berhenti berteriak...

    Silahkan SHARE pada siapa saja jika dirasa berguna dan bermanfaat...




    Sumber : Komunitas Ayah Edy