Sunday, September 4, 2011

Anjing Ini Doyan Nyapu


 Ini mungkin jadi sindiran bagi anda yang jarang membersihkan lingkungan di sekitar. Mungkin saya atau anda tahu bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman, tapi mengapa kita jarang melakukannya?. Beda dengan seekor anjing yang satu ini, ia tidak mengenal yang namanya kotor.
Ya.. Seekor anjing jenis golden retriever di Changchun, Jilin, Cina diketahui sangat suka menyapu. Bahkan, ketika dia diajak jalan-jalan oleh pemiliknya, dia menggigit sapu lalu membersihkan jalanan yang dia lewati.
Anjing ini pun tenar. Dia menjadi bintang di Internet setelah foto-fotonya yang sedang menggigit sapu beredar.

“Dia memang sangat pintar. Saya melatihnya untuk melakukan hal yang istimewa,” kata Xu Ming, pemilik anjing ini.
Namun, kata Xu Ming, dirinya terkejut ketika menyadari si anjing ternyata suka sekali menyapu. “Ke mana pun dia pergi, pasti sapu itu dia gigit dan dia bawa,” kata Xu Ming.
Lewat instruksi Xu Ming, anjing ini bisa membuat pola zig-zag di jalanan sambil menyapu. Setelah dia menyapu, dia beberapa kali menatap bos-nya seolah-olah bertanya apakah sudah bersih.

Inilah Hiu Roker Yang Doyan Dengar Lagu AC/DC


Grup band rock n roll asal Australia, AC/DC benar-benar menjadi salah satu band yang berpengaruh di dunia. Terutama semenjak album ‘Back In Black’ meledak di pasaran sehingga AC/DC begitu disukai oleh semua kalangan termasuk Hiu yang satu ini.
Hiu ini benar-benar menjadi salah satu fans sejati AC/DC untuk saat ini. Hal ini diketahui setelah seorang operator tur bawah laut di Neptune Bay, Australia, Matt Waller, yang saat itu ia tak sengaja memutar lagu You Shook Me All Night Long dan Back in Black di bawah laut menggunakan pengeras suara. Ia kaget karena hiu tersebut juga menyukainya.

“Hiu putih itu tertarik, ingin tahu, dan lebih tenang ketika mendengarnya,” kata Waller. Waller menempelkan pengeras suara di kandang besi yang biasa dipakai para penyelam dan peneliti untuk memperhatikan hiu putih.
Setelah diputar lagu AC/DC itu, si Hiu putih mendatangi pengeras suara. “Lalu dia menggosok-gosokkan mukanya ke pengeras suara, ini aneh,” kata Waller. Sebab, Hiu tidak memiliki telinga, jadi kemungkinan mereka tertarik dengan getaran musik AC/DC yang keluar lewat pengeras suara.

Waller menemukan hubungan musik dan perilaku hiu putih ini secara tak sengaja. Awalnya, dia diberitahu oleh penyelam bahwa lagu bisa mempengaruhi tingkah laku hiu. Dia pun membuktikannya dan ternyata benar.
Penemuan ini sangat penting buat Waller dan perusahaan tur tempat dia bekerja. Sekarang, dia menggunakan musik untuk menarik perhatian hiu putih, bukan lagi menggunakan umpan. Untuk proyek berikutnya, dia akan mencoba memutar lagu Led Zeppelin dan The White Stripes bagi si hiu putih.

Keluarga Ini Masukkan Gorila Jadi Anggota Keluarga


Adopsi anak mungkin itu sudah sering terjadi dan bukan lagi menjadi suatu hal yang dianggap aneh. Namun, bagaimana jika yang diadopsi itu bukanlah manusia melainkan hewan. Seperti yang terjadi di keluarga ini, mereka telah mengadopsi gorila dan memasukkannya menjadi salah satu anggota keluarga. Mereka adalah sepasang suami istri bernama Pierre dan Elaine Thivillon.
Mereka adalah pemilik kebun binatang yang berlokasi di dekat Lyon, Prancis. Gorila tersebut telah diadopsi sejak masih bayi dan diberi nama Digit. Layaknya bayi, semasa kecilnya, gorila ini juga diberi susu melalui dot hingga akhirnya diadopsi secara penuh oleh keluarga ini. Selain itu, keluarga ini juga mengabadikan perkembangan gorila ini tiap tahunnya dan memasukkannya dalam album foto. Kini makhluk berbulu lebat berusia 13 tahun seberat 80 kg itu mencapai waktu di mana ia harus keluar ‘sarang’.
Pierre dan Elaine mengatakan seperti dilaporkan dailymail, sudah waktunya Digit mencari kehidupannya. Orang tua Digit berencana membuka perlindungan gorila yang akan menjadi rumah baru anaknya itu. Waw…suatu kepedulian dan hubungan yang sangat besar antara manusia dengan hewan. Bisakah anda begitu??

Friday, September 2, 2011

Aku hanya mampu menitipkan hatiku untukmu


Ketika waktu berlalu ketika hari mulai berganti. Ketika itu semua telah berubah aku tak pernah melihat sapamu, dan aku tak pernah melihat bayangmu. Ku pupuskan semua rasa itu seiring waktumu. Ketika ku terdiam dan tak beraniku untuk menolehmu, mungkin kau juga tau karena kau belum halal bagiku.

Ku ingin menjatuhkan hatiku padamu namun masih terlalu dini kubayangkan. Ku kuatkan tabir pembatas sampai waktunya tiba. Tak akan pernah kusingkapkan tabir walau hati berdegup penuh tanya. Ketika itu kau harus tau bukan karena kepongahanku akan dirimu. Namun karena ketakutanku akan pada-Nya.

Dalam bayangku-pun aku takut untuk menghadirkanmu, walau sebenarnya pasti kau tak akan pernah tau. Tapi aku nyakin masih ada yang paling tahu yaitu Dia. Karena itu aku takut menghadirkanmu dalam bayangku.

Aku hanya mampu menitipkan hatiku untukmu dengan tangan tangan keridhoannya.

Monday, August 15, 2011

Seperti Puzzle

Seorang perempuan tertatih dengan hatinya yang remuk...hancur hingga jadilah puzzle yang harus disusun kembali.
Waktu terus berlalu, pagi...siang...petang...malam...dan pagi lagi...hari demi hari, belum juga tersusun puzzle itu dengan utuh. Buntu, tak bertemu akhir, minta bantu, tak ada yang membantu bahkan lelaki yang ikut menjatuhkan hati itu menganggap tak ada lagi permainan hati. Si lelaki lelah bermain. Perempuan juga lelah bermain. Tapi masih butuh hati itu biar bertahan hidup. "Game's over" kata si lelaki. Memuncaklah kemarahan perempuan. Dan diserakkan lagi kepingan-kepingan itu... terberai lagi. Semakin hancur.

Dicoba menatanya lagi hingga membentuk hatinya yang utuh. Hati yang dulu begitu indah, tanpa retak, tanpa gompelan, tak lagi menjadi satu hati sempurna. Tak bisa seperti dulu lagi, biarpun puzzle itu disusun sampai terbentuk hati. Retak itu, gompelan itu, tak tertutupi. Permainan hati ini selesai sudah, dengan celah-celah yang perlu diisi lagi dengan perekat cinta biar tampak menyatu utuh. Perekat cinta dari dirinya sendiri. Memang tak seindah dulu. Setidaknya hati itu telah kembali, dijaga dengan baik. Biar tak jatuh lagi, maka tak lagi ada permainan hati.

Wednesday, August 10, 2011

Kisahku Juga kisahmu...................!!

Ketika dalam pencarian yang sepertinya tak berujung, banyak sudah yang telah kutinggalkan. Aku terus memilah dan memilih karena hanya satu bagiku. Katika ada yang bertaut aku enggan tuk membuka lembaran hidupku untuknya. Karena aku masih mencari samapi nanti kutemukan yang sungguh mampu menjadi penyejuk jiwaku.

Ketika pena mulai kugoreskan dibuku kehidupanku, ketika itu tak mampu aku menghapus yang telah tergores, aku hanya berfikir bagaimana cara merubahnya untuk kedepannya. Tanpa harus menghapus sesudahnya. Ketika guratan2 guratan pena telah terukir menjadi rangkaian kata kisah. Mulai kubaca dan kukaji, tentang apa yang telah ku goreskan. Ku genggam kisahku dan kan ku bawa padamu, dan kuceritakan tentang kisahku padamu.

Aku ingin lembaran yang masih kosong tergurat pula kisahmu, karenanya aku masih menyisakan kekosongan sampai kau menjadi bagian hidupku. Ketika itu kita mulai mengisi kisah2 di setiap lembaran kisah kita.

Monday, August 1, 2011

Cross-Canada Fundraisers Hit the Road


Running from the one end of Canada to the other was a unique proposition when Terry Fox initiated his Marathon of Hope in 1980. Thirty-one years later, cross-country fundraisers are an almost daily sight on the shoulders of Canada’s summertime highways.

The Post offers this helpful round-up of some of Canada’s 2011 crop of fundraisers cycling, running or hitchhiking for a cause.

A marathon a day for the man who “would never walk again”

In 2006, 33-year-old David McGuire went into a coma following a massive stroke. In May, five years after he was told he would never be able to walk again, Mr. McGuire kicked off the “Run to Remember,” a name which pokes fun at Mr. McGuire’s short-term memory loss. Going from St. John’s to Victoria, Mr. McGuire is fundraising for Braintrust Canada as well as raising awareness of preventable brain injuries.

Each day, amid talks to schoolchildren and community groups, Mr. McGuire completes a 25-mile marathon. Throughout, he has kept his hair short to expose a massive C-shaped scar on the side of his head. Mr. McGuire reached Toronto on Sunday after a run through the Atlantic Provinces.

Camper van crusaders

Ed and Gaye Chicoine, along with their six adult children, are criss-crossing North America in a camper van to spread the gospel of good nutrition and regular exercise. Running relay-style along the route, the family are plodding through a 22,000-kilometre Marathon of Health from coast to coast and then back again through the U.S.

The marathon was originally planned solely for Canada, but the Chicoines added a leg through the United States after realizing that Americans “need more help” with fitness than Canadians. Since their quest began on May 9, the marathon has raised about $10,000 to promote childhood sports — roughly equal to the marathon’s per-month cost. When the Chicoines wrap up the marathon in February, they hope to have raised $5-million.

Read More: Cross-Canada Fundraisers Hit the Road