Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Wednesday, September 14, 2011

Ku titipkan bunga ini


Ketika aku dalam antrian tak sengaja kulemparkan ke selayang pandang, Ku terhenti pada kerudung hitam berbalut kain putih. Tak sengaja tertaut pandang kuliat sekelumit senyum tersungging. Saat itu aku mulai menundukkan pandanganku, dan termangu dalam dia. Teringat akan sekelumit pesan petiklah bunga ditaman.

Kucoba untuk sekali lagi mencoba memastikan apakah benar dia melempar pandang dan melukis senyum padaku. Astaghfirullah ternyata benar, aku menjadi gusar. Sedang aku dalam membatas diri untuk menjaga pandangan. Ketika itu aku mulai menyadarkan hati untuk tenang, Dan mulai ku lukis kata, Ya rob jika itu memang bunga yang kau tunjukkan padaku cukupkan aku dengan pertemuan berikutnya ketika aku sudah dalam kesiapan. Jadikan pertemuan ini hanya sebatas pengenal walau hanya sekelumit saja.

Ku titipkan bunga ini untuk Engkau jaga Ya Rob dan Engkau lindungi dalam keridhoan-Mu sampai ku petik ketika memang telah siap taman hatiku.

Friday, September 2, 2011

Aku hanya mampu menitipkan hatiku untukmu


Ketika waktu berlalu ketika hari mulai berganti. Ketika itu semua telah berubah aku tak pernah melihat sapamu, dan aku tak pernah melihat bayangmu. Ku pupuskan semua rasa itu seiring waktumu. Ketika ku terdiam dan tak beraniku untuk menolehmu, mungkin kau juga tau karena kau belum halal bagiku.

Ku ingin menjatuhkan hatiku padamu namun masih terlalu dini kubayangkan. Ku kuatkan tabir pembatas sampai waktunya tiba. Tak akan pernah kusingkapkan tabir walau hati berdegup penuh tanya. Ketika itu kau harus tau bukan karena kepongahanku akan dirimu. Namun karena ketakutanku akan pada-Nya.

Dalam bayangku-pun aku takut untuk menghadirkanmu, walau sebenarnya pasti kau tak akan pernah tau. Tapi aku nyakin masih ada yang paling tahu yaitu Dia. Karena itu aku takut menghadirkanmu dalam bayangku.

Aku hanya mampu menitipkan hatiku untukmu dengan tangan tangan keridhoannya.

Monday, August 15, 2011

Seperti Puzzle

Seorang perempuan tertatih dengan hatinya yang remuk...hancur hingga jadilah puzzle yang harus disusun kembali.
Waktu terus berlalu, pagi...siang...petang...malam...dan pagi lagi...hari demi hari, belum juga tersusun puzzle itu dengan utuh. Buntu, tak bertemu akhir, minta bantu, tak ada yang membantu bahkan lelaki yang ikut menjatuhkan hati itu menganggap tak ada lagi permainan hati. Si lelaki lelah bermain. Perempuan juga lelah bermain. Tapi masih butuh hati itu biar bertahan hidup. "Game's over" kata si lelaki. Memuncaklah kemarahan perempuan. Dan diserakkan lagi kepingan-kepingan itu... terberai lagi. Semakin hancur.

Dicoba menatanya lagi hingga membentuk hatinya yang utuh. Hati yang dulu begitu indah, tanpa retak, tanpa gompelan, tak lagi menjadi satu hati sempurna. Tak bisa seperti dulu lagi, biarpun puzzle itu disusun sampai terbentuk hati. Retak itu, gompelan itu, tak tertutupi. Permainan hati ini selesai sudah, dengan celah-celah yang perlu diisi lagi dengan perekat cinta biar tampak menyatu utuh. Perekat cinta dari dirinya sendiri. Memang tak seindah dulu. Setidaknya hati itu telah kembali, dijaga dengan baik. Biar tak jatuh lagi, maka tak lagi ada permainan hati.

Wednesday, August 10, 2011

Kisahku Juga kisahmu...................!!

Ketika dalam pencarian yang sepertinya tak berujung, banyak sudah yang telah kutinggalkan. Aku terus memilah dan memilih karena hanya satu bagiku. Katika ada yang bertaut aku enggan tuk membuka lembaran hidupku untuknya. Karena aku masih mencari samapi nanti kutemukan yang sungguh mampu menjadi penyejuk jiwaku.

Ketika pena mulai kugoreskan dibuku kehidupanku, ketika itu tak mampu aku menghapus yang telah tergores, aku hanya berfikir bagaimana cara merubahnya untuk kedepannya. Tanpa harus menghapus sesudahnya. Ketika guratan2 guratan pena telah terukir menjadi rangkaian kata kisah. Mulai kubaca dan kukaji, tentang apa yang telah ku goreskan. Ku genggam kisahku dan kan ku bawa padamu, dan kuceritakan tentang kisahku padamu.

Aku ingin lembaran yang masih kosong tergurat pula kisahmu, karenanya aku masih menyisakan kekosongan sampai kau menjadi bagian hidupku. Ketika itu kita mulai mengisi kisah2 di setiap lembaran kisah kita.

Monday, July 18, 2011

Tulang Rusukku Yang Hilang

Aku tak tau seperti apa senyummu, seperti apa wajahmu duhai tulang rusukku yang hilang. Yang aku tau bahwa adamu telah tersurat, walau seutuhnya aku belum tau. Jika aku boleh berharap, semoga engkau adalah wanita yang seperti aku harapkan. Aku ingin kau adalah sesuatu yang kokoh, dan lembut. Karena aku sedikit lemah dan kaku. Aku ingin kau sangat penyayang dalam keluarga. Karena aku sangat menyayangi semua yang menjadi keluargaku. Aku tak ingin merubah bentukmu atau nampakmu, karena seutuhnya aku telah menerimamu.

Seandainya ada kekurangan padamu, izinkan aku menjangi pengisi kekurangan itu. Biarlah nantinya kita saling melengkapi sampai ajal memisahkan kita. Jika nanti kita dibangkitkan kembali akupun ingin kita bertemu lagi, dan membangun hidup kembali. Aku ingin kau adalah tulang rusukku sampai kapanpun.

Friday, February 11, 2011

Mengapa engkau yang dulu sempurna


Mengapa engkau yang dulu sempurna kini telah menguning dan melayu, padahal belum secercah cahanya kasih sayangpun kau pancarkan padaku, apalagi percikan percikan kasih yang kau berikan sebagai penyejuk hati dalam kerisauan. Bertahun tahun sudah kutabahkan hati hanya untuk menggapai cita cita kau dan aku. Tapi mengapa kau tak pernah mengerti, padahal telah ku gadaikan semua rasa malu dan rinduku hanya untuk semua. Perjalanan ini penuh dengan duri hanya cita cita yang mampu membuat aku bertahan dalam harapan ke tak pastian.

Biarlah aku dalam ketiadaan hati sehingga aku tak akan berpaling dalam hati yang lain. Walaupun aku tau kini aku tak mungkin menggapai semua itu kembali. Hatimu sudah tak menjadi milikku lagi, izinkan kehadiran ku hadir di hatimu kembali. Walau sebenarnya aku tau itu semua sudah tak mungkin terjadi.

Biarlah awan terang mengelabu tapi tak sekelabu hatiku dalam kerinduan akan kehadiranmu kembali.

Tuesday, October 26, 2010

Detik waktu terus bergulir


Sepi hari kurasakan, kurebahkan diri dalam kelimbungan. Hanya untuk melepaskan penatnya jiwa, Berjuta pikir mulai menggelantung dalam hati, seolah enggan untuk melepas sendiri. Jiwaku bagaikan dedaunan yang lambat laun akan kemuning karena waktu. Galauku membawa diri seolah jatuh tak berarti, bagaikan daun yang jatuh melayang terterpa angin senja.

Detik waktu terus bergulir menusuk jiwa yang semakin bimbang. Seolah tak perduli kapan akan semuanya dapat terselesaikan. Kegelisahan kian terasa ketika jiwa jiwa mulai menghadap padaNya. Sesal dan ketak berdayaan mulai tampak jelas mematahkan setiap sendi dan melumpuhkan seluruh saraf. Air mata mulai terasa memberatkan kelopak mata, terasa hangat menitik mengalir dalam ngarai-ngarai lekuk keriput pipi.

Wednesday, September 22, 2010

Nikmatnya Melukiskan Kisah


Ya rob kekuranganku dalam bersimpuh kepadaMu sangatlah telah kurasakan. Sedikitnya iman peneman langkah hidup mencari kebenaran yang hakiki. Ku simpuhkan kaki ku tengadahkan tangan hanya mengharap belas kasihMu. Ku akui begitu banyaknya dosa yang telah ku goreskan dalam lembaran hidup ini. Terlalu nikmatnya aku melukiskan kisah kisah kelam dalam catatan keburukanku. Aku terlalu lama terbuai dalam urusan dunia, sehingga menutup batin ini dalam kesehajaan.

Aku sangatlah menyadari betapa telah menumpuknya dosa yang telah ku perbuat. Aku hanya mengharapkan ampunan dan keridhoanMu ya robi. Ya rob izinkan aku menikmati sisa hidupku dengan ampunan dan keridhoanMu. Aku rindu akan surgaMu, berilah hambaMu ini dalam kemeranaan dunia. Tapi jadikanlah hambaMu ini pemenang dan penikmat kehidupan yang hakiki kelak dalam surgamu.amin

Friday, August 13, 2010

Biarlah aku hidup dalam hati penuh luka asalkan

Apa lagi yang musti ku tuliskan dilembaran putih ini kecuali hanya kisah kisah tangisan dan jeritan hati orang terhina yang dapat kutuliskan. Aku bingung kemana nak ku tuangkan kisah ini keculi hanya pada lembaran-lembaran blog ini. Memang sengaja hati membuatnya karena tidak ada tempat untuk berkeluh kesah. Aku tak sanggup menceritakan beratnya perjalanan!! kepada kedua orang tuaku dan saudara-saudaraku.

Aku hanya ingin tampak kuat dihadapan mereka, aku takut ketika ku tunjukkan kelemahanku mereka akan menjadi patah. Ya....... biarlah semua kisahku kutuangkan dalam lembaran ini. Biarlah hanya aku yang tau betapa perihnya batin ini. Ya rob ku..berapa kali aku harus menumpahkan air mata ini, berapa kali pula aku harus menyekanya.

Andai saja mata-mata batin setiap insan bisa melihat perihnya kehidupan ini. Mungkin aku akan menjadi hancur karena menanggung malu yang teramat besar. Aku bukan menggurutu karena nasibku tapi yang aku sesalkan kenapa karena ketak berdayaanku semuanya menjadi kelabu.

Ya........ rob jangan tutupkan usiaku ketika aku belum mampu menyentuh kaki kedua orang tuaku dan mengangkat derajatnya dari keterhinaan. Biarlah aku hidup dalam hati penuh luka asalkan dimata kedua orang tuaku aku tampak bahagia. Bendunglah airmataku dihadapan mereka..... biar mereka tak tau jeritan perih hati dari anaknya.

Cukupkan nikmat Mu padanya bahagiakanlah mereka dalam karuniaMu.

Thursday, July 22, 2010

Biarlah Aku Sama Dengan Orang Yang Mulia Dimatamu


Ya rob......Jadikan bulan Ramadhan ini menjadi penyejuk jiwaku, dan pelebur dosaku. Aku yang berlumuran dosa masih pantaskah untuk menyambut bulan yang mulia ini. Aku ingin terlahir kembali dalam kefitrohan jiwa. Ya beberapa hari lagi, hari muliamu akan tiba sedangkan aku masih dalam ketak berdayaan. Berilah aku kekuatan Mu..agar kurengkuh bulan muliamu dengan kesehajaan jiwaku.

Ya rob.....andai aku bisa mendengar semua bisikan, mungkin aku dapat mendengarkan semua seruan seluruh isi alam yang mengagungkan, akan kemuliaan hari Ramadhan ini. Aku tampak kecil dan semakin kerdil ketika aku membayangkan betapa sedikitnya amalan yang aku bawa pada hari yang mulia ini. Tetes tetes air mata mulai kutumpahkan berharap akan dapat kemuliaan walaupun hanya sebesar butiran debu.

Ya rob......................ku!! biarlah aku sama dengan orang yang mulia dimatamu, izinkan aku menyambut bulan sucimu walau hanya dengan sedikit bekal dalam kolbo.

Aku tak menyesal dengan tertumpahnya air mata ini


Aku tak menyesal dengan tertumpahnya air mata ini, tapi yang ku sesalkan hanyalah perilakumu yang dengan mudahnya melupakan keberadaanku. Kini aku menjadi semakin tersingkir karena tak ada keperdulianmu. Jerami di sawah pun mulai mengering terkena panas mentari, begitu pula air mata ini semakin mengering karenena banyaknya luka yang kau goreskan.

Benih hatiku tak seindah benih padi dimusim tanam, hatiku sudah teramat gersang. Walaupun musim semi mulai berjalan menumbuhkan putik2 dedaunan baru dan menyempurnakah kuncup bunga menjadi buah. Tapi tak seiring dengan gersangnya sungai dalam relung hatiku yang tak mungkin terisi oleh butiran butiran kasih sayang.

Ya.........aku menyadari karena teramat seringnya ku tupahkan air mata ini sehingga mengeringkan sungai sungai dalam diriku. Darahku pun terasa membeku tak ada lagi perasaan indah dalam hidupku. Kemana nak ku tautkan hati, nak kemana pula kan ku basahkan jiwa ini.

Tuesday, July 20, 2010

Ketiadaan Hati

Ku ingin selalu memejamkan mata, biar ku dapat melihat jelas dirimu dalam sepi. Aku tak mampu membeliakkan mata untuk memandang kepergianmu. Walaupun mata terpejam tapi masih terasa hangat air mata menetes membasahi pipi seiring kau lepaskan jiwa ini dengan kegalauan. Ya aku ingin bangun dari mimpi ku tapi aku tak sanggup!! aku takut dengan kenyataan harus melihat dan berjalan dalam kesendirian. Biarlah kau tetap ada dalam pejaman mataku agar menjadi teman pelepas lelah dan kesendirian dalam tafakurku.

Tuesday, February 2, 2010

Rasa Rasaku Dalam Galau

Kan ku gaitkan hati ku pada hatimu, setelah kau luluhkan aku dengan budi dan tuturkatamu yang begitu sempurna. Nampak anggun kau kenakan perias iman. Melambai lambaikan rindu akan iman. Kau ajak aku menuju hidup yang lebih berarti walau ku tak mengerti. Andai saja kau telah dihalalkan mungkin kah kau tercipta untukku... Sampai detak jantung terasa berhenti. Ketika ku coba memanjatkan do'a kepadaNya, agar kita bisa di satukan. Adai itu sebuah kenyataan mungkin telah ku tuangkan secawan rasa kehausan dalam Taqwa.

Kini ku tertekuk kembali tersungkur, ketika hati dan rasa tak tertaut lagi. Kau menjauh seiring hari yang semakin senja. Akupun kehilangan cahaya yang telah kau pancarkan. Kau begitu cepat berlalu padahal aku ingin selalu merindukan mu. Meski hanya sebatas sapa kini tak terjumpa apalagi sebuah kebersamaan. Ya rob dosa kah aku ketika ku gadaikan sebuah janji untuk sebuah maksud. Apakah itu sebuah taruhan antara hamba dan tuhan..aku tak mengerti.......berilah aku pencerahanMu biar ku jadikan pegangan hidupku. Tunjukkan padaku guru yang baik yang berilmu.