Saturday, September 19, 2009

Sedihku Dalam Idul Fitri

Ya rob kini aku selesaikan kewajiban bulan romadhonmu, kini aku kembali dalam fitrahmu....tangisku pun pecah ketika usai sholat idul fitri. ada yang hilang dari diriku ketika aku mengingat salah kua akan keorang tua ku.ku panjatkan do'a agar orang tua ku merasa senang meski kami anaknya tak ada yang pulang.

ya rob andai waktu dapat kubalikkan kembali mungkin aku akan pulang menjemput idul fitrimu bersama orang tuaku.air mata terus mengalir sampai tulisan ini ku buat.apa lagi ketika aku harus melihat oranng lain berlebaran bersama keluarga kembali sedihku hadir.

aku berharap dapat umur panjang sampai romadhon berikutnya.......dan mudahkanlah aku dalam rezekimu agar aku dapat beridul fitri dengan kedua orang tua ku..................amin.
Simson Ade Suseno

Wednesday, September 16, 2009

Cultural Migrants from Japan

Cultural Migrants from JapanCultural Migrants from Japan: Youth, Media, and Migration in New York and London

by Yuiko Fujita

Lexington Books
ISBN: 0739128914; 216 pp

This is an academic and readable book on young Japanese who choose to live in London or New York for cultural purposes - to become artists, dancers, DJs, etc - rather than for purely economic reasons.

The book traces the lives of some of these Japanese "cultural migrants" as they move from Japan to New York or London, then back to Japan again. This is done in a series of interviews with twenty-two migrants who express their views, ideas, opinions, prejudices, etc regarding their lives in London, Tokyo, or back in Japan.

A huge variety of reasons are presented for going abroad, and women appear to outnumber men. These migrants also gain a degree of independence when abroad (in particular being away from family), and some feel that they have reached a deadlock at work in Japan and need to go abroad for more opportunities.

The way the interviewees see their identity and/or the identity of Japan in the world, and how they view Western countries, makes for interesting reading. The images that many of them hold of New York and London prior to visiting these cities are very strong, and the influence of the media, in particular TV shows, is emphasized.

The book also includes discussions on identity in the context of the ideas of Nihonjinron ("theories of Japaneseness"), and the interviewees' sense of identity, often expressed positively (mainly for the men) and a little negatively (mainly for the women). The ideas that many of these young people hold relating to race and ethnicity changes when they live in London and New York; many of them make friends with Koreans and Taiwanese (arguably the countries that are culturally the closest to Japan), and find that their images of British people and Americans ends up being shattered, in both good and bad ways.

Some respondents claim their own hierarchy of racism, for example, looking down on other Asians, and many of the interviewees heighten their sense of nationalism when abroad. It was also particularly shocking to read of violence and racial taunts to some of the interviewees in both cities.

If there is any weakness in the book, it is this: a few months (or even a few years) is really not enough to understand and put in context the experience of living overseas, although it can be said that this often depends on the individual concerned. The reader comes away with the feeling that half of the interviewees have fleeting and superficial experiences abroad, while the other half find some depth to their time spent away from Japan and attempt to integrate and understand their unfamiliar surroundings, albeit for a short time.

Ultimately the book delivers an interesting mix of opinions and shows the sheer variety of views and the importance of focusing on individuals and individual experiences. Some of the interviewees returned to Japan and were later interviewed back home, and some remained abroad. In fact, one of the most important questions all of them faced was whether to stay or leave.

It is a shame that this book will not find a wider readership; it is academic in nature, which may put some off, but easy to read; unfortunately (as is the case for many academic works), it is expensive, and so may find a limited market, when it deserves a larger one.

David White

Buy this book from Amazon USA I UK I Japan




© JapanVisitor.com

Yahoo Japan Auction Service

Book a Japanese Hotel with Bookings

Japanese Friends

Rough Guide To Japan

Tags

Friday, September 11, 2009

Sabar itu yang aku dengar...!!!!!

Sabar itu yang aku dengar.......!!!ketika aku.....!!aku harus ditinggalkan. Ku coba untuk bertahan meski dengan luka yang mendalam. Memang aku...! akui betapa berat perasaan ini. Tapi apalah daya ku...aku hanyalah sekeranjang sampah yang tak begitu berarti bagimu. Meski kau ingin mengambilnya...tapi banyak waktu yang harus kau buang hanya untuk memilah dan memilih diriku.

Biarlah aku terbuang seiring waktu yang terus bergulir mungkin kau akan mengerti betapa pentingnya menghargai. Sebait katamu masih membasuh luka hatiku ketika kau memutuskan untuk berlalu.

Biarlah aku yang tetap berdiri di onggakan batu karang membasuh luka dengan deburan ombak samudra. Dan berharap akan datang damparan samudra cinta bersama para pecinta yang hakiki. amin

Kisah dunia malam

Malam kini aku akan berlalu dari peraduanmu.........mencoba mengais sedikit rezekimu. Meski tatap mata nanar penuh cibir mengiringi langkahku aku tetap berlalu. Sapa manja mulai menemani ku dalam setiap nafasku. Mengiring sepi penuh dengan gelitik manja, aku mencoba menepis semua misteri meski tak banyak yang aku temukan namun tetap ku coba untuk mengerti.

Thursday, August 27, 2009

MARAK KEKERASAN PADA ANAK DISEKOLAH (20 Januari 2009)


Laporan: Riri Wijaya
Kutipan

Dari banyaknya kasus kekeraan yang terjadi selama ini, korban paling banyak adalah anak-anak. Secara fisik dan psikis, mereka tak berdaya saat menghadapi kekerasan yang dilakukan orang dewasa.

Kekerasan diartikan sebagai tindakan yang menyebabkan seseorang menderita atau dalam keadaan tertekan tanpa bisa melakukan perlawanan. Hadi Supeno dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan, dahulu kala orang mengintepertasikan kekerasan hanya sebagai indakan fisik. Namun,sebenarnya ada kekerasan yang sulit mengukurnya namun fatal akibatnya yaitu kekerasan psikis.
Trauma adalah bentuk yang dihasilkan dan sulit mengukur tingkat pemulihan jika kekerasan psikis ini yang terjadi.

Karena tergantung dari berapa lama, usia berapa, siapa yang melakukan dan bagaimana kepribadian si korban itu sendiri menjadi alasannya. Data dari KPAI menunjukkan, dari analisis 19 surat kabar nasional yang terbit di Jakarta selama tahun 2007, terdapat 455 kasus kekerasan terhadap anak.

Dari Kejaksaan Agung diperoleh data, selama tahun 2006 ada 600 kasus kekerasan terhadap anak (KTA) yang telah diputus kejaksaan. 41 persen di antaranya terkait pencabulan dan pelecehan seksual, sedangkan 41 persen lainnya terkait pemerkosaan. Sisanya, 7 persen, terkait tindak perdagangan anak, 3 persen kasus pembunuhan, 7 persen tindak penganiayaan, sisanya tidak diketahui. .

Berbagai jenis dan bentuk kekerasan dengan beragam variannya diterima anak-anak Indonesia, seperti pembunuhan, pemerkosaan, pencabulan, penganiayaan, trafficking, aborsi, paedofilia, dan berbagai eksploitasi anak di bidang pekerjaan penelantaran, penculikan, pelarian anak, penyanderaan, dan sebagainya.

Dari seluruh tindakan kekerasan terhadap anak, 11,3 persen dilakukan oleh guru, ini menempati peringkat dua setelah kekerasan yang dilakukan oleh orang di sekitar anak, dan jumlahnya mencapai 18 persen.

Sepanjang paruh pertama 2008, kekerasan guru terhadap anak mengalami peningkatan tajam, 39,6 persen, dari 95 kasus KTA, atau paling tinggi dibandingkan pelaku-pelaku kekerasan pada anak lainnya.

Jenis kekerasan yang dilakukan guru terhadap anak belum termasuk perlakuan menekan dan mengancam anak yang dilakukan guru menjelang pelaksanaan ujian nasional atau ujian akhir sekolah berstandar nasional.

Jika kekerasan psikis itu dimasukkan, persentase akan kian tinggi, berdasarkan pengaduan anak dan orangtua/wali murid kepada KPAI. Lalu kenapa guru menjadi pelaku kekerasan terhadap anak? Karena semestinya guru menjadi pihak yang paling melindungi anak setelah orangtua.

Hadi mengatakan, mungkin saja guru mengalami tekanan kehidupan yang kian berat, baik yang berhubungan dengan kesejahteraan sosial, kehidupan profesi, maupun tekanan psikis lain yang mendorong mereka melakukan tindak kekerasan terhadap murid.

Selain itu, anak-anak juga mengalami kekerasan yang dilakukan teman-teman sebaya melalui kegiatan perploncoan pada awal tahun ajaran. Apa pun alasannya, sekolah bukan lagi tempat yang aman bagi anak-anak. Maka, selayaknya siapa pun menaruh perhatian lebih besar terhadap keamanan anak di sekolah.

Tuesday, July 14, 2009

Faktor Ekonomi Penyebab Kekerasan pada Perempuan dan Anak

Aceh Bisnis 25-03-2009
*riandi armi
MedanBisnis – Sabang

Faktor ekonomi dinilai menjadi faktor utama penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Sabang. Kasus kekerasan tersebut tercatat meningkat sejak tahun 2008 hingga 2009.

Demikian disampaikan Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2-A) Kota Sabang, Ainal Mardiah kepada MedanBisnis, Selasa (24/3), terkait kekerasan terhadap perempuan dan anak. “Selain karena faktor ekonomi keluarga, juga karena faktor perkawinan usia dini atau belum matang,” ujarnya. Sebab, dari beberapa pertemuan yang dilakukan P2TP2-A, permasalahan seperti itu sering muncul. Sehingga, dari pertemuan itu diketahui bahwa penyebab kekerasan itu akibat faktor ekonomi dan pernikahan dini. Namun, kata Ainal, kasus yang terjadi umumnya lebih dominan adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Seperti beberapa kasus KDRT yang telah ditangani oleh para penegak hukum. “Selain meningkatnya kasus kekerasan rumah tangga, kasus perceraian juga meningkat,” kata Ainal. Untuk itu, pihaknya terus berupaya menekan kasus kekerasan perempuan dan anak, diantaranya dengan melakukan sosialisasi tentang perlindungan anak dan perempuan. Kepada orang tua juga diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap anak. “Karena Anak adalah titipan, maka setiap orangtua wajib memberikan perlindungan dan pendidikan layak kepada anak,” kata Ainal.

Karenanya, Ainal mengingatkan kepada masyarakat bila melakukan kekerasan akan dituntut dengan hukum sesuai dengan perlindungan anak yang tertuang dalam UU Nomor 3 tahun 2002 dan tentang perlindungan perempuan Nomor 3 Tahun 2004.

Faktor Penyebab kekerasan pada anak

Banyak faktor pemicu kekerasan terhadap anak, kombinasi antara karakter, hubungan antar individu, masyarakat dan keseharian perilaku ―termasuk di dalamnya norma, kebiasaan budaya dan hukum.

Banyak kasus kekerasan terhadap anak terjadi dimana anak sebenarnya bukan sebagai pemicu langsung yang berhubungan dengan konflik pada orang dewasa. Anak sering menjadi korban dan pelampiasan dari konflik tersebut. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan karakteristik yang berperan terhadap meningkatnya kekerasan yang dialami anak, dengan kata lain, resiko kekerasan terhadap anak berhubungan langsung dengan karakter yang dimiliki oleh orang dewasa. Namun demikian dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa karakteristik bukanlah satu-satunya faktor (faktor utama) terjadinya kekerasan terhadap anak.

Beberapa faktor resiko terjadinya kekerasan pada anak lainnya:
1. Ketidakmampuan atau retardasi mental pada anak
2. Isolasi sosial dari keluarga
3. Orangtua kurang mengetahui akan kebutuhan dan perkembangan anak
4. Orangtua yang memiliki riwayat kekerasan domestik (rumahtangga)
5. Kemiskinan dan strata sosioekonomi yang rendah
6. Orangtua pengangguran
7. Rumahtangga yang mengalami perpecahan, kekerasan, perceraian, isolasi dan intimidasi
8. Hubungan keluarga yang tidak akrab
9. Orangtua atau orangtua asuh yang masih terlalu muda
10. Hubungan antara orangtua dan anak yang buruk
11. Orangtua yang memiliki permasalahan atau gangguan emosi dan berpikir
12. Orangtua yang sedang mengalami stres dan distress, termasuk di dalamnya depresi atau gangguan mental lainnya
13. Community violence, termasuk didalamnya kekacauan massa dan perang

Kekerasan Anak = Pelanggaran HAM berat :
1. Mengabaikan hak asasi orang.
2. Mengakibatkan penderitaan fisik, mental dan sosial.
3. Mengganggu tumbuh kembang anak.
4. Menghambat masa depan.