Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, February 27, 2012

Kau hadir dalam mimpiku

Kau hadir dalam mimpiku, nampak jelas semuanya. Terselubung indah dengan kerudungmu, dalam mimpikupun aku tak berani menatapmu, kulihat sekejap pandang ada tanda didagumu setitip hitam menitik disana. Ya robb kau tunjukkan semuanya padaku tentang rautnya sedang sedikitpun aku tak pernah melihatnya. Sedetikpun aku tak pernah bercakap dengannya.

Jika itu adalah bagian dari jiwaku, mudahkan dalam segalanya. Hamba berpasrah padamu ya robbi.............!!!

Monday, July 18, 2011

Tulang Rusukku Yang Hilang

Aku tak tau seperti apa senyummu, seperti apa wajahmu duhai tulang rusukku yang hilang. Yang aku tau bahwa adamu telah tersurat, walau seutuhnya aku belum tau. Jika aku boleh berharap, semoga engkau adalah wanita yang seperti aku harapkan. Aku ingin kau adalah sesuatu yang kokoh, dan lembut. Karena aku sedikit lemah dan kaku. Aku ingin kau sangat penyayang dalam keluarga. Karena aku sangat menyayangi semua yang menjadi keluargaku. Aku tak ingin merubah bentukmu atau nampakmu, karena seutuhnya aku telah menerimamu.

Seandainya ada kekurangan padamu, izinkan aku menjangi pengisi kekurangan itu. Biarlah nantinya kita saling melengkapi sampai ajal memisahkan kita. Jika nanti kita dibangkitkan kembali akupun ingin kita bertemu lagi, dan membangun hidup kembali. Aku ingin kau adalah tulang rusukku sampai kapanpun.

Friday, February 11, 2011

Mengapa engkau yang dulu sempurna


Mengapa engkau yang dulu sempurna kini telah menguning dan melayu, padahal belum secercah cahanya kasih sayangpun kau pancarkan padaku, apalagi percikan percikan kasih yang kau berikan sebagai penyejuk hati dalam kerisauan. Bertahun tahun sudah kutabahkan hati hanya untuk menggapai cita cita kau dan aku. Tapi mengapa kau tak pernah mengerti, padahal telah ku gadaikan semua rasa malu dan rinduku hanya untuk semua. Perjalanan ini penuh dengan duri hanya cita cita yang mampu membuat aku bertahan dalam harapan ke tak pastian.

Biarlah aku dalam ketiadaan hati sehingga aku tak akan berpaling dalam hati yang lain. Walaupun aku tau kini aku tak mungkin menggapai semua itu kembali. Hatimu sudah tak menjadi milikku lagi, izinkan kehadiran ku hadir di hatimu kembali. Walau sebenarnya aku tau itu semua sudah tak mungkin terjadi.

Biarlah awan terang mengelabu tapi tak sekelabu hatiku dalam kerinduan akan kehadiranmu kembali.

Wednesday, September 22, 2010

Nikmatnya Melukiskan Kisah


Ya rob kekuranganku dalam bersimpuh kepadaMu sangatlah telah kurasakan. Sedikitnya iman peneman langkah hidup mencari kebenaran yang hakiki. Ku simpuhkan kaki ku tengadahkan tangan hanya mengharap belas kasihMu. Ku akui begitu banyaknya dosa yang telah ku goreskan dalam lembaran hidup ini. Terlalu nikmatnya aku melukiskan kisah kisah kelam dalam catatan keburukanku. Aku terlalu lama terbuai dalam urusan dunia, sehingga menutup batin ini dalam kesehajaan.

Aku sangatlah menyadari betapa telah menumpuknya dosa yang telah ku perbuat. Aku hanya mengharapkan ampunan dan keridhoanMu ya robi. Ya rob izinkan aku menikmati sisa hidupku dengan ampunan dan keridhoanMu. Aku rindu akan surgaMu, berilah hambaMu ini dalam kemeranaan dunia. Tapi jadikanlah hambaMu ini pemenang dan penikmat kehidupan yang hakiki kelak dalam surgamu.amin

Friday, August 27, 2010

Prasangka Hati Yang Tak Terucap


Jalan yang indah tapi tak seindah perjalanan hidup ini. Kulalui hidup dengan penuh kerisauan, perjalananpun semakin terasa melelahkan ketika harus tak ada teman. Semakin sering kulalui semakin pula sering kutemukan kerikil-kerikil tajam yang mengauskan terompah perjalanan. Terik mentari semakin menusuk ubun-ubun, peluh mulai bercucuran membasahi pelipis, ku seka perlahan tampak menghitam kusam sapu tangan.

Ku kibaskan saputangan walau dengan sedikit tenaga, perlahanku menghelakan nafas berat untuk mengurangi rasa penat. Aku terus berjalan menuju penghujung jalan kucari tempat persinggahan sekiranya hanya untuk membenamkan harapan. Ku cuba mengukirnan nama-nama dalam setiap hati insan agar sekiranya nanti jika aku tak sanggup menyelesaikan perjalanan ini masih ada yang menceritakan.

Tentang sebuah perjalanan lelaki berwajah legam dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan tipuan. Sekelit pandang terjurus pada sebuah keindahan seorang insan yang memancarkan rasa kepedulian. Hati si wajah legam bergejolak menahan rasa, tersimpan rasa yang semakin menyiksa di dalam jiwa. Tak mungkin dia mendekatinya atau mengutarakan sebuah prasangka hatinya, karena dia hanyalah lelaki yang berwajah legam.

Hanya tegur sapa yang dapat terlontar, tak ada keberanian untuk mengutarakan karena hatinya telah terpenjara oleh rasa kerendahan. Semakin hari semakin tersiksa kata tak ada lagi yang dapat terucapkan. Kian hari si insan semakin menghilang, di telah tak tampak dalam perjalanannya. Pria berwajah legam semakin gusar....hari demi hari terus dinantikan hanya setiap bait kata yang bisa ia tuliskan dalam lembaran dunia maya.

Perjalanan semakin tak menentu seolah tiada penghujung, setiap pemberhentian dalam istirahatnya selalu mengukirkan namanya...mungkin sudah banyak namanya terukir di setiap bongkahan batu prasasti perjalanan dunia maya.

Thursday, July 22, 2010

Aku tak menyesal dengan tertumpahnya air mata ini


Aku tak menyesal dengan tertumpahnya air mata ini, tapi yang ku sesalkan hanyalah perilakumu yang dengan mudahnya melupakan keberadaanku. Kini aku menjadi semakin tersingkir karena tak ada keperdulianmu. Jerami di sawah pun mulai mengering terkena panas mentari, begitu pula air mata ini semakin mengering karenena banyaknya luka yang kau goreskan.

Benih hatiku tak seindah benih padi dimusim tanam, hatiku sudah teramat gersang. Walaupun musim semi mulai berjalan menumbuhkan putik2 dedaunan baru dan menyempurnakah kuncup bunga menjadi buah. Tapi tak seiring dengan gersangnya sungai dalam relung hatiku yang tak mungkin terisi oleh butiran butiran kasih sayang.

Ya.........aku menyadari karena teramat seringnya ku tupahkan air mata ini sehingga mengeringkan sungai sungai dalam diriku. Darahku pun terasa membeku tak ada lagi perasaan indah dalam hidupku. Kemana nak ku tautkan hati, nak kemana pula kan ku basahkan jiwa ini.

Tuesday, July 20, 2010

Tangan, mata, & mulut berlumuran dosa!!

Tangan, mata, & mulut berlumuran dosa!! ini yang selalu kurasakan. Tipisnya iman pun menjadi pelengkap kebodohan ku, dalam mengarungi kehidupan. Terkadang hati menjadi sangsi kemana langkah nak pergi, kaki ingin sekali berlari tapi hati masih tak dapat mengerti. Aku berjalan dalam malam mencoba untuk menerawang andai aku bisa kebulan dan membuat sebuah lubang mungkin akan kulakukan. Dan kubenamkan semoa kebodohan padanya dan kuharapkan pancaran bulan penuh dengan ke indahan memnyinari setiap sendi2 nadirku biarlah dingin semua relung jiwa yang penuh dosa agar semuanya membeku dalam pancarannya.

Ya aku berharap akan datang jatuhnya bintang dan mulaiku melantunkan sebuah harapan, itu lah filsafah penuh kebodohan melantunkan harapan pada bintang yang jatuh..emmm. Sa't sepi mulai terasa kembali ketika malam semakin menyeruak hanya terdengar suara jangkrik malam. Terasa mencekam kesunyian dalam kesendirian, mulai menggigil terasa diri ketika membayangkan kesendirian dalam kubur. Terhimpit raga tak ada suara hanya gelap yang terasa tak banyak pula yang kubawa amal untuk menjadi teman dalam keterangan. Oh.............mulai kurasakan bisikan2 iblis ketika dia mulai membisikan pada jiwaku, janganlah takut kau dalam kuburmu jika kau ingin terang bawalah lentera duniamu yang gemerlah saat kau dalam diskotik biarlah semuanya bergoyang, jika kau ingin teman bawalah kupu2 malammu rengkuhlah dia dalam kuburmu agar kau merasa kehangatan dalam kesendirian.Gila mulai kurasa saat kubiarkan semuanya terus berjalan, aku mulai lunglai kusandarkan diriku dalam sebuah pohon kurebahkan diri.

Dan kubenamkan jiwaku kembali dalam khayal, aku semakin takut dan menggigil ketika bisikan2 itu mulai muncul kembali. Aku semakin ngeri ku cari tempat berlindung dan bersembunyi tapi bisikan itu semakin jelas. Menggidik bulu romaku seperti saat ku tulis kalimatku, aku pun berlari menjauh untuk pergi mencari tempat yang tinggi berharap untuk tak dapat direngkuhnya kembali.

Ya semakin ku berlari suara itupun semakin jelas kudengar, aku bingung dalam ketakutan. Aku tersungkur dalam pelarian detak jantung terasa merhenti ketika langkah mulai terasa semakin mendekat. Ku tak berani memandang, kubenamkan jiwa dalam2. Kupejamkan mata dalam2 berharap tak akan melihat sebuah kenyataan. Tapi ketika jiwa mulai terasa dingin menggigil kurasakan hangat sebuah sentuhan menarik jiwaku melepas ketakutan terdengar bisikan bukalah matamu hadapi kenyataan. Perlahan mata mulai kubuka kuliat sedikit demi sedikit putih tampak cahanya mulai menyeruak dalam pelupuk mata. Semakin jelas kulihat dan semakin jelas kurasakan sebuah keindahan ketika dalam kesadaran mulai di ajarkan dan di perdengarkan padaku tentang Ayat2 suci Al-Qur'an.

Friday, April 9, 2010

Ku Relakan Hati Ini

Aku ingin belajar menjadi sempurna dalam iman biar ku kelak di pertemukan dengan jodohku yang beriman pula. Aku ingin menemukan penyejuk sukma ini ketika Robku telah menetapkan. Biarlah keihlasan yang membimbing hati ini kepada lembayung peneduh jiwa. Aku ingin berteman hidup dalam sahdunya ketaqwaan, biarlah bunga ilalang bertebangan terterpa angin senja. Menceritakan tentang kisah setiap insan.

Aku takingin berprasangka kehadiratnya, aku takut menjadi hamba-yang tak pandai bersyukur. Biarlah kelak kisahku tersebar bersama berseminya ilalang ilalang di musim semi. Menggilas hati yang di rundung nestapa mengharap akan kehaidiran penyejuk jiwa.

Jangan biarkan mimpi ini menjadi nyata ketika hati tak dapat setia. aku takut kan menjadi luka bagi semenanjung jiwa. Kulihat senyum yang begitu lembut menyejukkan hati. Kulihat tatap mata yang begitu tulus, katanya, sapanya sungguh menyejukkan. Tapi ku takut tuk mengatakan, aku ingin menulis namanya dalam hati tapi ku takut. Biarlah semu akan berlalu seiring dengan waktu, akan ku tuliskan kisahku di lembaran baru. Meski tak seindah kisah yang lalu.